Penguatan Kesadaran Multikultural Perspektif Neurosains melalui Edukasi Budaya Pemberian Nama Anak pada Masyarakat Jawa di Baleharjo, Pacitan
Abstrak
Penguatan kesadaran multikultural di tingkat masyarakat desa menjadi kebutuhan mendesak di tengah pergeseran identitas budaya akibat modernisasi. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Desa Baleharjo, Kabupaten Pacitan, dengan fokus pada edukasi budaya pemberian nama anak dalam perspektif neurosains. Topik ini dipilih karena tradisi pemberian nama dalam budaya Jawa mengandung nilai filosofis dan multikultural yang berpotensi memperkuat empati serta identitas sosial, namun mulai mengalami reduksi makna. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) berbasis Community Based Research dengan tahapan asesmen awal, workshop interaktif, refleksi naratif, dan evaluasi pre–post test menggunakan skala Likert. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman filosofis nama, kesadaran multikultural, dan empati sosial peserta di atas 25% dari skor awal. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi kearifan lokal dan perspektif neurosains efektif dalam membangun kesadaran multikultural berbasis komunitas serta berpotensi direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa.
Referensi
Banks, J. A. (2015). Cultural diversity and education: Foundations, curriculum, and teaching. Routledge.
Chiao, J. Y. (2009). Cultural neuroscience: Cultural influences on brain function.
Chiao, J. Y., Cheon, B. K., Pornpattananangkul, N., Mrazek, A. J., & Blizinsky, K. D. (2013). Cultural neuroscience: progress and promise. Psychological Inquiry, 24(1), 1–19.
Decety, J., & Cowell, J. M. (2014). The complex relation between morality and empathy. Trends in Cognitive Sciences, 18(7), 337–339.
Gay, G. (2018). Culturally responsive teaching: Theory, research, and practice. teachers college press.
Hall, S. (2014). Cultural identity and diaspora. In Diaspora and Visual Culture: Representing Africans and Jews. https://doi.org/10.4324/9781315006161-10
Hanafi, M. (2015). Community Based Research panduan merancang dan melaksanakan penelitian bersama komunitas. LP2M UIN Sunan Ampel Surabaya.
Immordino-Yang, M. H. (2015). Emotions, learning, and the brain: Exploring the educational implications of affective neuroscience (the Norton series on the social neuroscience of education). WW Norton & Company.
Markus, H. R., & Kitayama, S. (2010). Cultures and selves: A cycle of mutual constitution. Perspectives on Psychological Science, 5(4), 420–430.
Nafi’ah, S. A. (2020). Memperkuat Identitas Bangsa Melalui Pendidikan Multikultural: Konsep–Prinsip-Implementasi. Guepedia.
Nieto, S. (2017). Re-imagining multicultural education: New visions, new possibilities. Multicultural Education Review, 9(1), 1–10.
Park, D. C., & Huang, C.-M. (2010). Culture wires the brain: A cognitive neuroscience perspective. Perspectives on Psychological Science, 5(4), 391–400.
Salim, A., & Aprison, W. (2024). Pendidikan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia, 3(1), 22–30.
Statistik, B. P. (2024). STATISTIK INDONESIA 2024. In D. D. Statistik (Ed.), 1101001 (Vol. 52, pp. i–804). Badan Pusat Statistik. https://web-api.bps.go.id/download.php?f=CT3talzY+KDUmqJh1kOCVWZRdjFEL3dibzIxbWtvU3d4Y202Q2lOZE9DUzA0Y3VSNnE3RDRjaW5QVVBEcVNEZkxLTnVnb2V2b0QyQ3c5amxmai9sWlN5RmV4Wi9QSzlJcktaK1M3T204MEhqVGhiTitGNDcyS1o3WFRtU3k0THh1Q0lkeWlnM0oxb1FkUlE3QzVUU1MrRDh5Tm9UTmxLZmVuNTZHYVU5K1VIbEVkSFVKQWFKeWplVHRuRkozY1BEMTNhWFBRMW5RcWhxSklaOWVKTDM5ejI3b3pnMkp5bkt2bWhkWFJ1SHdHSGFDeWVxOFhDQVh6TDllK1BablB6Y08raVFnc241dmN6ODR3NlQ=&_gl=1*1hogopv*_ga*MTUwODgwNjA2OS4xNzcxMDQ4MTUx*_ga_XXTTVXWHDB*czE3NzEwNDgxNTEkbzEkZzAkdDE3NzEwNDgxNTckajU0JGwwJGgw
UNESCO, G. E. M. (2016). Global Education Monitoring Report: Education for People and Planet. UNESCO Paris.
IKAMKU: Integration of Academics and Quality Society is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


.png)










