BAI’AT DALAM TAFSIR HARAKI (Studi Komparasi Tafsi>r fi> Z{ila>l Al-Qur’a>n dan Min Wahyi Al-Qur’a>n)

  • Ihsan Nudin Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta
  • Ahmad Syukron
  • Syamsul Ariyadi Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta
Kata Kunci: Bai’at, Tafir Haraki, Min Wahyi Al-Qur’an

Abstrak

This research aims to examine the relevance of bai'at (oath of allegiance) in modern life through a comparative study of two prominent tafsirs: "Fi Dhilal al-Qur'an" by Sayyid Qutb and "Min Wahyi al-Qur'an" by Muhammad Husain Fadlullah. Bai'at, as a pledge of loyalty in Islam, plays a crucial role in establishing a bond between individuals and leadership within the context of Islamic da'wah (mission) and movements. This research shares a similar theme with the research conducted by Samsul Bahri, Zainuddin, and Muhammad Husni bin Ismail titled "Bai'at in the Qur'an According to Ibn Kathir," published in the Journal of Islamic Studies in 2019 at UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. In that study, only Tafsir Ibn Kathir was used as the main reference, whereas this research uses two primary tafsirs: Tafsir Fi Dhilal al-Qur'an and Min Wahyi al-Qur'an. The type of research in library research, with a descriptive and analytical comparative study approach. The research employs a documentary technique for data collection. Content analysis is used for data analysis. The findings of this research are, first, that bai'at serves as a test of a Muslim's true identity as a believer. A proper bai'at earns the pleasure of Allah, whereas an improper one may require reevaluation. Second, bai'at remains relevant in contemporary life, encompassing three aspects: worship (ibadah), politics (siyasah), and social interactions (muamalah)

Referensi

“Ini Isi Sumpah/Janji Anggota DPR Terpilih” dalam https://www.beritasatu.com/news/214106/ini-isi-sumpahjanji-anggota-dpr-terpilih/ diakses pada tanggal 16 Juli 2024 jam 16:03.
A. Hafizh Dasuki (et al), Ensiklopedi Islam, Jilid I, (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 1994), 220.
Abdul Muta’al Muhammad Abdul Wahid, Al-Furqan baina al-Kufri wa al-Iman, hal. 64
Abi Al-Qasim Al-Husain bin Muhammad Al-Asfahani, Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an, Tahqiq : Markaz AL-Dirasat wa Al-Buhuts bi Maktabah Nazzar Musthafa Al-Baz, Maktabah Nazzar Musthafa Al-Bazz, Jilid 1, hal. 5.
Al-Munir, Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9, No 2, Juli-Desember 2018, hal 5.
An-Nisa : 80
Antony Black, PemikiranPolitik Islam, (Jakarta: Serambi, 2006), hal. 35.
Bulan haram ialah Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Pada bulan-bulan itu dilarang melakukan peperangan
Demikian yang tertulis dalam kitab Al-Bihar akan tetapi para pentahqiq menyebutkan bahwa yang benar adalah Al-Jadd ibn Qays.
Dr. Yusuf Qaradawi, Fiqh Jihad, (Selangor : PTS Islamika, Sdn, Bhd: 2013) hal 57.
Hadist No 4180 - 4181
Hadist yang berbunyi : لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق. “tidak boleh mentaati makhluk dalam memaksiati sang Khaliq”. Dalam kitab Hidayatu ar-Ruwat ila takhriji ahaditsi al-Mashabih wa al-Misykat, Ibnu Hajar al-Asqalani, (Dar Ibn Qayyim: 2001) hal. 3624.
Hadyu ialah hewan yang disembelih sebagai pengganti (dam) pekerjaan wajib yang ditinggalkan atau sebagai denda karena melanggar hal-hal yang terlarang di dalam ibadah haji
Hasan Abdullah, Seputar Permasalahan Fikih Sosial, Semarang, PT. Bina Cipta, 2005, hal 45.
Hasan Kamil al-Malthawi, al-Murabbi : Tamhidun fi al-Tasawuf wa Atsar al-Ustadz al-Kamil fi al-Ruh, ( Dar al-‘Asr al-‘Arabiyah, 1974), hal 47.
https://almanhaj.or.id/283-pembahasan-masalah-baiat.html, diakses pada 29 Oktober 2023.
https://andreyuris.wordpress.com/2009/09/02/analisis-isi-content-analysis/ diakses pada 6 Februari 2024 pukul 06:01.
https://id.wikipedia.org/wiki/Ubadah_bin_ash-Shamit, diakses pada tanggal 16 Juli 2024 pukul 16:42.
https://ketabonline.com/ar/books/93020/read?part=1&page=252&index=637066/637067/637069 diakses pada 06 Feb 2024, pukul 16:33
https://sayedfadlullah.com/sections/47/15/660, diakses pada 23 Juli 2024 pukul 22:09
https://www.researchgate.net/profile/AmirfanAsfar/publication/330337822_ANALISIS_NARATIF_ANALISIS_KONTEN_DAN_ANALISIS_SEMIOTIK_Penelitian_Kualitatif/links/5c39a386458515a4c71fe1f2/ANALISIS-NARATIF-ANALISIS-KONTEN-DAN-ANALISIS-SEMIOTIK-Penelitian-Kualitatif.pdf diunduh pada 06 Feb 2024 pukul 06:16
Ibn Hajar Al-Asqalany, Fath al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhary, (Jakarta : Pustaka Imam Syafii) Juz VII hal 566.
Ibnu Jarir at-Thabari, Tafsir at-Tabari, (Surakarta: Pustaka Imam Syafi’i) Juz 11 hal 47.
Ibnu Khaldun, Muqaddimah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2019, hal 108.
Ibnu Manzur, Lisan al-Arab (Qaherah: Darul Ma’arif, 1119) juz 3, hal. 402.
Ibrahim Abu Abbah, Hak dan Batil dalam Pertentangan, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hal. 33
Ini termasuk ayat-ayat sifat. Ahli tafsir berbeda pendapat mengenai ayat ini. Sebagian menjelaskan bahwa yang dimaksud tangan adalah kekuatan dan kekuasaan Allah. Sebagian yang lain memahaminya sebagai pengawasan Allah akan janji setia yang diberikan oleh beberapa orang kepada Nabi Muhammad SAW.
Jalal aD-Din ‘Abd ar-Rahman as-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an, Juz III, ( Kairo : Dar el-Hadist, 2004) hal. 170.
Jalaludin Abi Abdirrahman Al-Suyuthi, Lubab Nuqul fi Asbab An-Nuzul, (Beirut: Muassasah Kutub Al-Tsaqafiyah) 2002, hal 232.
Kode dilakukan untuk mengenali ciri-ciri utama kategori. Idealnya, dua atau lebih coder sebaiknya meneliti secara terpisah dan reliabilitasnya dicek dengan cara membandingkan satu demi satu kategori.
Lecy J. Moelong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Rosdakarya, 2004) hal. 4
Louis Ma’luf Al-Yassu’I, Al-Munjid fi Al-Lughah wa Al-A’lam, (Beirut: Dar Al-Masyriq, 2002), hal. 57.
M. Gufran, Baiat di Organisai Nahdlatul Wathan dalam Tinjauan Komunikasi Intrapersonal, hal 24.
M. Gufran, Baiat di Organisasi Nahdatul Wathan, Jurnal Tasamuh, Vol 19, No 1, Juni 2021, hal 3.
Majdu Ad-Din Abi Al-Sa'adat Al-Mubarak bin Muhammad Al-Jazary, Al—Nihayah fi Gharib Al-Hadist wa Al-Atsar, Daar Ibnu Al-Jauzi.
Maksud berbuat dusta di sini adalah mengadakan pengakuan palsu terkait anak yang semestinya bukan anak suaminya, tetapi mereka nisbahkan kepadanya.
Maksud berbuat dusta di sini adalah mengadakan pengakuan palsu terkait anak yang semestinya bukan anak suaminya, tetapi mereka nisbahkan kepadanya.
Maranda Sukma Mufatizah, Problematika Persoalan Baiat di Indonesia Dalam Konteks Fiqh Siyasah, Jurnal Darussalam; Jurnal Pendidikan, Komunikasi dan Pemikiran Hukum Islam, Vol XIV, No 2 : 21-38, April 2023, hal. 3.
Muhammad Chirzin, Permata Al-Qur’an, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014), hal 3
Muhammad Fuad Abdul Baqy, Mu’jam al-Mufahras li al-Fazil Qur’an (Beirut: Dar al-Fikr), hal 173.
Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad, (Jakarta: PT Pustaka Litera Antar Nusa, 1992) hal 13-172
Muhammad Ibn Ali Ibn Adam Al-Ethiopi, Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajjaj di Syarh Al-Muslim Ibn Hajjaj, (Damam: Dar Ibn Jauzi, 1426 H) Vol 31, hal 234.
Muhammad Sulaiman Abdullah Asyqar, Al-Qur’an Al-Karim wa bi al-Hamisy Zubdah al-Tafsir min Fath al-Qadir, Dar al-Muayyad 1996, hal 148.
Nasruddin Biadan, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hal. 1.
Noeng Muhajiri, Metode Penelitian Kuantitatif, (Yogyakarta: Rake Surasin, 2002) hal. 7.
Orang yang tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah Swt. ada tiga macam: a) karena benci dan ingkarnya kepada hukum Allah Swt., orang yang semacam ini kafir; b) karena menuruti hawa nafsu dan merugikan orang lain, dinamakan zalim; dan c) karena fasik, sebagaimana terdapat dalam ayat 47 surah ini.
Qalā’id ialah hewan hadyu yang diberi kalung sebagai tanda bahwa hewan itu telah ditetapkan untuk dibawa ke Ka‘bah
Qur’an Kemenag in Word.
Sa’id Hawwa, Tarbiyah Ruhiyah, (Solo: Era Adicitra, 2010) hal 83.
Salahudin Basyuni Raslan, Al-Fikr Al-Siyasi ‘Inda Al-Mawardi, Dar Al-Tsaqafah li An-Nasyr wa Al-Tauzi’, 1983, hal 189.
Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilal al-Qur’an, Terj, As’ad Yasin Dkk, ( Jakarta : Gema Insani, 2000), Juz 26, hal., 386.
Surayin, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Bandung: Yrama Widya, 2014) hal. 26
Syamil Quran, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: 2007) hal 512
Syiar-syiar kesucian Allah ialah segala amalan yang dilakukan dalam rangka ibadah haji, seperti tata cara melakukan tawaf dan sa’i, serta tempat-tempat mengerjakannya, seperti Ka‘bah, Safa, dan Marwah
Terjemah Kemenag 2019 oleh Lembaga Pentashih Mushaf Al-Qur’an (LPMQ).
Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 9 ayat 1. Akan terjadi perbedaan kalimat pada awal dan akhir sumpah yang diucapkan. Apabila Presiden/Wakil Presiden beragama Islam, maka di awali dengan ucapan “Demi Allah”. Agama Kristen Protestan/Katolik diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya”, Agama Hindu diawali dengan ucapan “Om atah Paramawisesa”, dan Budha diawali dengan “Demi Sang Hyang Adi Budha".
Diterbitkan
2025-12-31