PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP WARIA DI PONDOK PESANTREN AL-FATAH YOGYAKARTA
Abstract
Manusia memiliki hak yang sama dihadapan Tuhan termasuk Waria, namun tidak jarang waria mendapat kesulitan bahkan terabaikan dalam bersosialisasi dan mengekpresikan keberagamaannya. Di kalangan masayarakat yang agamis waria dianggap kaum yang termarjinalkan dan mendapat tekanan dari segi sosial maupun kultural. Namun, di sisi lain terdapat pesantren yang menyediakan fasilitas bagi waria dalam mengekspresikan keberagamaannya sekaligus tempat belajar dan bersosialisasi sesama mereka, pesantren tersebut adalah pesantren Al-Fatah tepatnya di Yogyakarta.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pandangan masyarakat yogyakarta terhadap waria di Pesantren Al-Fatah. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara semiterstruktur. Informan dalam penelitian ini adalah masyarakat yogyakarta. Hasilnya kalau kita petakan pertama, sebagian besar akademisi sudah melihat ini sebagai fenomena yang harus kita tanggapi dengan bijak bukan malah menjauhi dan mengkucilkannya, dan mereka yang menjadi waria, kedua waria harus di kucilkan dan mereka yang bergabung dengan pesantren itu terlihat aneh, ketiga waria ini sudah di anggap sebgai gender ketiga jadi mereka itu harus diberikan hakknya sebagaimana adanya laki-laki dan perempuan.
References
A. Heuken,. Ensiklopedia Etika Medis. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1979.
Alwi Shihab. Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama. Bandung: Mizan, 1997.
Arif Nuh Safri. “Pesantren Waria Senin-Kamis Al-Fatah Yogyakarta: Sebuah Media Eksistensi Ekspresi Keberagamaan Waria”. Esensia. 15 (September 2014). https://doi.org/10.14421/esensia.v15i2.776.
B.Murtagh. Genders and sexualities in Indonesian cinema: constructing gay, lesbi and waria identities on screen. Routledge., 2013.
E. Blackwood. Regulation of sexuality in Indonesian discourse: Normative gender, criminal law and shifting strategies of control. Culture, health & sexuality., 200M.
K. Atmojo. Kami Bukan Lelaki - Sebuah Sketsa Kehidupan Kaum Waria. Jakarta: PT. Temprin, 1986.
Kartini Kartono. Patologi Sosial 2. Jakarta: Grafindo Persada, 2008.
Kementerian kesehatan Repuplik Indonesia. “Estimasi jumlah popualsi kundi terdampak HIV tahun 2012”. Kemkes RI, 2014.
KH. A.Munawwir, dan Warson. Kamus al Munawwir. Surabaya: Pustaka Progresif., 1997.
Koeswinarno. Hidup Sebagai Waria. Yogyakarta: Lkis Pelangi Aksara, 2004.
L. Andaya. The bissu: Study of a third gender in Indonesia. Honolulu: Other Pasts, 2002.
Lexi, J. Moleong,. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda, 2010.
Masnun, Masnun. ―WARIA DAN SHALAT REINTERPRETASI FIKIH UNTUk KAUM WARIA.‖ Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam 10, no. 1 (29 Januari 2011): 123. https://doi.org/10.14421/musawa.2011.101.123-134.
N.K Denzin, dan Y.S. Linclon. Handbook Qualitatif Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.
Praptoraharjo, Ignatius, dan Laura Navendorff. ―Survei Kualitas Hidup Waria,‖ 2015, 65.
Sari, Putri Wulan, dan Wahyu Ratna Putra. “The Effects Of Al Fatah Pondok Pesantren (Special For Transgender People) On Their Religious Behaviours In Yogyakarta”, 2013, 9.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2014.
Sunarto. Pengantar Sosiologi. Revisi. Jakarta: FE UII, 2004.
T. Boellstorff. Between religion and desire: Being Muslim and gay in Indonesia., 2005.
Usman Bustaman dkk. Pengembangan Model Sosial : Analisis Spasial Angka Harapan Hidup Penduduk Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik Indonesia., 2013.
Copyright (c) 2022 Jurnal Mimbar: Media Intelektual Muslim dan Bimbingan Rohani

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





1.png)
1.png)
1.png)
2.png)
1.png)
