Prosiding Seminar Nasional Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIM Sinjai
https://journal.uiad.ac.id/index.php/SENTIKJAR
<p>Prosiding Seminar Nasional Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIM Sinjai terbit 1 kali setahun sejak 2022, diterbitkan oleh Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Sinjai. Prosiding ini merupakan media publikasi onlina hasil-hasil seminar nasional maupun internasional, khususnya yang di dilaksanakan oleh Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Sinjai. Prosiding ini diharapkan sebagai media bagi staf, dosen, peneliti, praktisi, guru, mahasiswa dan masyarakat luas yang memiliki perhatian terhadap ilmu pendidikan.</p>Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Muhammadiyah Sinjaien-USProsiding Seminar Nasional Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIM Sinjai2830-0238Peran Etos Gusjigang Sebagai Model Penguatan Karakter Dan Toleransi Di SMK Raden Umar Said Kudus
https://journal.uiad.ac.id/index.php/SENTIKJAR/article/view/4426
<p>Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai Etos Gusjigang yang diintegrasikan ke dalam kurikulum dan budaya sekolah di SMK Raden Umar Said Kudus sekaligus menganalisis peran Etos Gusjigang dalam membentuk sikap toleransi di lingkungan sekolah yang heterogen. Lokasi penelitian ini adalah SMK Raden Umar Said Kudus, Kudus, JawaTengah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam dan sejumlah siswa di SMK Raden Umar Said Kudus. Sumber data dalam penelitian ini meliputi Bapak ES dan Bapak MRI selaku guru PAI, ibu K selaku guru PKn, dan 4 siswa SMK Raden Umar Said Kudus. Selain wawancara, teknik lain yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; pertama, Etos Gusjigang menciptakan profil siswa yang memiliki aspek seimbang dalam hal moral (Gus), penegtahuan yang luas dan religiositas yang moderat (Ji), serta kemampuan teknis yang kompetitif di dunia kerja (Gang). Akumulasi ketiga komponen tersebut secara alami akan memupuk karakter dan sikap toleransi siswa. Kedua, Peran Gusjigang di SMK RUS adalah menyediakan kerangka kerja Soft Skill yang khas Kudus namun relevan secara global dan memastikan ketersediaan fasilitas dan kemajuan teknologi di SMK RUS bersandar pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan. Dengan karakter Gusjigang, lulusan SMK RUS diharapkan tidak hanya menjadi "mesin" produksi yang hebat, namun melahirkan manusia yang memiliki kepekaan sosial dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.</p>Rochanah
Copyright (c) 2026 Rochanah
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-04-222026-04-2251810.47435/sentikjar.v5i0.4426Islam Sebagai Basis Ekoteologi: Rekonstruksi Relasi Manusia, Alam, dan Tuhan
https://journal.uiad.ac.id/index.php/SENTIKJAR/article/view/4427
<p>Indonesia Emas 2045 menuntut arah baru pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguatan kompetensi sumber daya manusia, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesadaran ekologis yang berkelanjutan. Krisis lingkungan global seperti kerusakan ekosistem, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya alam menjadi tantangan serius yang perlu direspons melalui pendekatan pendidikan yang holistik dan bernilai. Paper ini bertujuan untuk mengkaji Islam sebagai basis ekoteologi dalam merekonstruksi relasi manusia, alam, dan Tuhan sebagai fondasi etis bagi pembaruan paradigma pendidikan. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka, penelitian ini menganalisis konsep-konsep teologis Islam seperti tauhid, khalifah, amanah, dan mizan sebagai landasan ekoteologis dalam membangun kesadaran ekologis peserta didik. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi ekoteologi Islam dalam pendidikan berpotensi memperkuat dimensi spiritual, moral, dan ekologis secara simultan, sehingga peserta didik tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan. Dengan demikian, pendidikan berbasis ekoteologi Islam dapat menjadi salah satu arah strategis dalam mewujudkan generasi berkarakter, berkelanjutan, dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045.</p>HiljatiSt. SyamsudduhaAyyub Daeng Pananrang
Copyright (c) 2026 Hiljati, St. Syamsudduha, Ayyub Daeng Pananrang
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-082026-05-08591810.47435/sentikjar.v5i0.4427Integrasi Media Sosial Sebagai Platform Pembelajaran Fikih: Analisis Literasi Digital Terhadap Ambiguitas Pemaknaan Quru’ dan Iddah pada Followers Instagram
https://journal.uiad.ac.id/index.php/SENTIKJAR/article/view/4446
<p><em>Integrasi teknologi digital telah menggeser paradigma pembelajaran hukum Islam dari ruang kelas formal menuju platform media sosial yang bersifat informal dan masif. Namun, kemudahan akses informasi di era digital seringkali tidak dibarengi dengan kedalaman literasi, sehingga memicu fenomena illusion of explanatory depth—suatu kondisi di mana masyarakat merasa telah memahami konsep hukum padahal hanya menyentuh aspek kulitnya saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Instagram sebagai media pembelajaran hukum keluarga dan menganalisis tingkat literasi digital "Masyarakat Digital" terhadap hadis-hadis ahkam mengenai iddah, khususnya terkait ambiguitas pemaknaan quru’, hukum talak saat haid, hingga sinkronisasi titik awal perhitungan iddah. </em><em>Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-analitis dengan pendekatan kualitatif-digital. Data dikumpulkan melalui teknik survei kuesioner interaktif pada fitur Instagram Story untuk menjaring data primer dari responden secara real-time. Hasil penelitian menunjukkan adanya kerancuan signifikan pada responden dalam mendefinisikan quru' (antara tiga kali masa suci atau tiga kali masa haid) serta ketidaktahuan mengenai aspek legal-formal dimulainya masa iddah. Dengan merujuk pada HR. Muslim No. 1471, penelitian ini menegaskan pentingnya sistem quru' sebagai instrumen biologi-yuridis untuk menjamin istibra’u al-rahm (kebersihan rahim) dan hifdzu nasl (menjaga nasab). Artikel ini menyimpulkan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran hukum Islam harus dibarengi dengan penguatan kurasi konten oleh para ahli (intelektual) guna meluruskan pemahaman fikih yang mu’tamad. Media sosial bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sarana krusial untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hak-hak wanita di era digital.</em></p>Noormawati
Copyright (c) 2026 Noormawati
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-05-082026-05-085192710.47435/sentikjar.v5i0.4446